Minggu, 04 Juni 2017

Blogger ini Melaporkan Pendapatan dari Adsense sebesar

Namanya Harsh Agrawal. Dia adalah seorang blogger profesional dari India. Penghasilanya mencapai Rp 377 juta atau $ 29.000 selama setahun (2016). Tentu ini bukan perjalanan satu dua tahun. Dia mengawalinya dari penghasilan sebesar Rp 100 ribu pada 2008.

Yang unik dapat dilihat dari prinsip bisnisnya. Dia berkata "Semakin banyak yang kau berikan, semakin berlimpah pemberian".
 
seo, blogger sukses, addsense, uang, penghasilan internet, blogger
 Di atas adalah tabel penghasilannya dari tahun ke tahun.

Kunjungi blognya (lihat url address di gambar) untuk info lebih lanjut. Ingin ulasan lebih lanjut ? Silakan isi komentar di bawah dan saya akan mengulasnya dalam bahasa Indonesia. Gratis. Simple. Namun, tetap lengkap.

Enjoy... !
 

Sabtu, 04 Februari 2017

Semakin Tua Semakin Menjadi atau Semakin Sakit ?

Analisis Umur Terhadap Gaya Kepemimpinan

Gubernur DKI Jakarta adalah posisi yang penting. Sebagai sebuah peristiwa politik telah terjadi banyak intrik dan sindiran yang saling memojokkan. Baik dari pernyataan-pernyataan masing pasangan calon pada saat kampanye maupun pada saat debat resmi. Tulisan ini tidak akan membahas validitas pernyataan ataupun kritikan masing-masing calon. Orang awam pada umumnya memiliki alat analisis yang terbatas untuk mengklarifikasi hal itu. Bahkan - disinyalir - kalangan menengah ke atas pun miskin data dan kemampuan analisis.

Oleh karena itu, faktor umur jadi sorotan yang menarik untuk dianalisis.

Apakah pemimpin dengan umur yang lebih tua cenderung tidak transformatif ?

Sebuah penelitian yang dilakukan S.W Solinge di Belanda menunjukkan para pemimpin - dalam kasus Solinge para manager di perusahaan swasta - cenderung kurang transformatif di banding pemimpin yang lebih muda. Penelitian yang berjudul "Are Older Leades Less Transformational ? The Role of Age for Transformational Leadership from the Perspective of Socioemotional Selectivity Theory". 

Dasar teori yang digunakan adalah Future Time Perspective (FTP). FTP menunjukkan harapan, ekspektasi, perspektif dan kepercayaan terhadap tugas atau tugas yang dilakukan. Pemimpin dengan FTP luas cenderung fokus terhadap target-target jangka panjang. Sementara, pemimpin dengan FTP sempit cenderung berfokus pada target jangka pendek dan lebih mengejar reward jangka pendek.

Dari semua pasangan yang ada, Agus Harimurti Yudhoyono adalah calon gubernur paling muda. Akan tetapi belum tentu dia yang paling transformatif. Pemimpin yang berasal dari partai yang otoritas personalnya kuat, seperti PDIP dengan Megawati-nya dan Partai Demokrat dengan SBY-nya, kemungkinan ide transformatif yang ditawarkan menjadi lebih bargainable mengingat setiap sang person tetap membayangi mereka.

Sementara itu, Anis dan Sandi cenderung lebih netral karena partai pengusung mereka belum terbukti di bawah bayang-bayang Prabowo 100 %. Buktinya, Ahok yang dahulu diusung oleh Prabowo lewat Gerindra mampu melepas bayang-bayang Gerindra dan berlabuh di PDIP. Namun, begitu Anis-Sandi masih membutuhkan dukungan politik yang kuat. Sementara Anis sebagai akademisi belum teruji bergerak di dunia politik. Pemikiran Anis yang transformatif belum tentu diterima oleh masyarakat Jakarta yang punya karakter khusus. 

Faktor umur dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan seseorang. Dalam perusahaan dengan jangka waktu kerja panjang atau bahkan seumur hidup, penelitian  Solinge amat mungkin berlaku. Namun, bagi sebuah jabatan publik seperti Gubernur DKI, analisis lebih mendalam perlu dilakukan. Selain itu, faktor dan variabel-variabel lain perlu di tambahkan agar analisis yang dilakukan lebih tajam. Variabel yang juga bisa dimasukkan antara lain : umur kerja sebelumnya, luas tanggung jawab dll.

Senin, 30 Januari 2017

Fakta Paslon Gubernur DKI : Siapa Paling Tua ?

Umur memang bukan ukuran keberhasilan dan jaminan kinerja, namun menarik juga untuk diteliti profil umur para calon gubernur DKI Jakarta 2017.

Paslon 1 :
1. Agus Harimurti Yudhoyono (38 tahun)
2. Sylvi Murni (58 tahun)

Paslon 2 :
1. Basuki Tjahaya Purnama (50 tahun)
2. Djarot Saiful Hidayat (61 tahun)

Paslon 3:
1. Anis Baswedan (47 tahun)
2. Sandiaga Uno (47 tahun)

Di atas adalah fakta profil umur para pasangan calon gubernur DKI Jakarta 2017.

Baca analisis fakta profil umur Paslon Gubernur DKI 2017. 

Minggu, 01 Januari 2017

Tema

Tema di awal tahun 2016 masih tentang hati. Hati yang mengenang. Hati yang mengingat. Hati yang tersenyum ketika bertemu. Hati yang ternyata masih tetap bisa tersenyum-senyum sendiri walau dalam kesendirian.

Apa kabarmu hari ini?

Aku menanyakannya seolah-olah kau ada ada di depanku. Kuakui kulakukan ini tidak hanya padamu. Kulakukan ini sampai Dia memutuskan kepastian untukmu dan untukku. Mungkin ini sapaan terakhirku dalam tulisan. Karena besok – mungkin, hatiku telah berubah atau tak layak lagi aku menyapamu. Sekalipun dari sebuah tulisan yang hanya aku dan debu-debu kamarku yang membacanya.

Syair-syair pendek adalah kesukaanku. Karena langsung mengatakan inti-inti persoalan. Semakin banyak kumenulis, semakin terlihat aku ingin berlama-lama dengan tema ini.

Ada satu yang lucu. aku jarang sekali menulis nama orang dalam tulisanku. Hmm padahal aku sendiri yang akan membacanya. Hahaha.. aku bahkan malu pada diriku sendiri. namamu kadang terselip dalam ucapan-ucapan hatiku. Dalam mimpi kadang aku tak sengaja mengucapkan namamu. Padahal yang didepanku adalah orang lain. Ya itulah mimpi. Allah memberikan ilham dan pertanda pada orang-orang suci lewat mimpi. Sementara Allah memberiku mimpi untuk ‘meledekku’. Namun, aku tak marah dengan pemberian mimpi macam itu. Aku hanya tertawa. Aku hanya menertawakan mimpi lucuku itu.

 Awal 2016 akan kau awali dengan sesuatu yang baru. Tak tahu aku apa itu. namun, dilihat dari gaya tulisanmu. Kau bahagia. Antusias. Optimis. Dan bahagia. Harus berkata apa lagi aku? Nikmati harimu. Selamat menyusun bata-bata hidupmu.

*naskah asli ditulis pada 5 Januari tahun 2011. Dipublikasikan ulang dengan beberapa penyesuaian

Sabtu, 24 Desember 2016

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Menulis ?



Malam hari? Ketika bintang di langit bertaburan? Duduk di atap rumah, secangkir kopi panas di meja sambil duduk lesehan dan laptop di pangkuan? Sepertinya ini bukan pilihan bijak. Kalau kita tinggal di pinggiran kota atau sedang di pedesaan, jam 9 malam sudah turun embun. Tentu tak nyaman bila di tengah-tengah menulis layar laptop berair.
Siang hari? Di tengah-tengah pekerjaan yang menumpuk? Tak mungkin rasanya. Kecuali, kalau hari minggu. Namun, hari minggu kan waktunya keluarga?  Masa 5/6 hari kerja, hari Minggunya kerja lagi. Anak istri pasti demo bila anda bersibuk-sibuk ria di hari minggu.
Atau kita ikuti saja gaya para pemusik? Tak ada ketentuan kapan menulis. Yang kita lakukan hanya bawa sebuah buku saku kemana pun kita pergi. Begitu ada ide langsung ditulis. Hanya butuh lima menit untuk corat-coret ide. Namun, setelah sampai rumah. Buku saku dibuka lagi. Dan ternyata ide dan mood sudah hilang. Pernahkah anda mengalami hal itu.?
Ada lagi cara “militer”. Sesuai dengan namanya, cara ini butuh disiplin tinggi dan fokus seratus persen (kalau perlu lebih) pada tujuan dan target yang kita tentukan. Dengan cara ini kita tentukan jam dan tempat kita harus menulis setiap harinya. Misalnya, setiap jam 5 pagi kita harus menulis. Maka, meskipun Merapi meletus atau Jakarta banjir, setiap jam lima pagi anda harus menyibukkan diri menulis. Godaannya adalah ketika anda sedang lelah, ngantuk atau sedang ada acara ke luar kota dimana anda bangun di tempat berbeda dari biasanya dengan suasana berbeda pula. Mampukah anda?
Proses kreatif memang seperti mancing di selokan. Kadang ada ikannya. Kadang tidak ada. Bahkan kadang yang ada cuma sampah bau. Tak heran banyak orang melakukan hal-hal aneh demi ide kreatif. Ada yang mengguyur kepalanya dengan es, ada yang melamun atau tidur di WC, ada yang mandiin kucingnya baru dapat ide. Dan ratusan cara gila lainnya. Tapi, bagi saya adalah dengan menjaga antusiasme. Antusiasme yang terjaga membuat ide akan dengan nakal keluar dari batok kepala. Oleh karena itu, variasi kegiatan – kalau perlu ekstrim – akan menjaga antusiasme kita dalam melakukan pekerjaan atau proses kreatif yang kita cari-cari.
Dan ada satu jawaban yang amat kreatif. Menulislah hanya ketika anda menginginkan untuk menulis. Sedikit menyederhanakan, tapi ada benarnya juga. Bila anda sampai ngga ingin menulis, berarti menulis bukan pacar sejati anda. Anda tidak mencitainya dan dia pun (menulis) tidak mencintai anda. Sudah sepantasnya anda putuskan dia. Daripada pacaran anda tidak menghasilkan sesuatu yang jelas. Ya, putuslah dengan dia. Ini demi kebaikan anda juga J
 Karya-karya monumental para penulis legendaris bertebaran di took-toko buku. Sekian ribu orang berusaha mengikuti jejak langkah mereka. Namun, para pengikut terjebak pada proses kreatif. Mereka “mati” mencari cara beternak ide segar, teknik menulis orisinil dan – tentu saja – kapan waktu yang tepat untuk menulis. Saran saya, daripada kita “mati” jadi penulis karena kesulitan mencari ide atau gaya menulis yang orisinil, lebih baik kita tak mencari apa-apa. Menulislah kalau anda ingin saja dan suka melakukannya. Lebih baik tidak jadi apa-apa dalam kebahagian, daripada “mati” untuk menggapai bintang yang terlalu tinggi.
Mungkin kalimat terakhir saya di atas agak sentimentil dan pesimistis. Sekali lagi, saya tak mencari optimis atau menjauhi pesimis. I just write it down. Bagus? Ikuti. Tidak? Biarkan saja. Toh kalimat itu tak merebut apa pun dari saya dan anda bukan?

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons